Penulis: Pradana Yudystira
Tulisan ini akan memaparkan fenomena yang terjadi di remaja Indonesia perihal gaya anti-mainstream atau lebih dikenal sebagai gaya hipster. Logika penulisan yang digunakan dimulai dengan pemaparan sederhana mengenai situasi yang ada, terkait fenomena hipster yangterjadi di kalangan remaja kekinian. Kemudian dilanjutkan pemaparan hubungan antara kajian sosiologi dan ilmu komunikasi dalam melihat fenomena ini. Sehingga pada akhirnya penulis dapat memberikan pemaparan bagaimana fenomena ini dengan sudut pandang sosiologi komunikasi yang terjadi pada remaja kekinian Indonesia.
“Masih jaman sekarang ngikutin gaya mainstream, anti-mainstream dong.” Pernyataan berbentuk pertanyaan ini kini sudah sering didengar di kalangan remaja Indonesia. Pernyataan ini dimaksudkan kepada seseorang yang dianggap mengikuti “arus” pergaulan maupun gaya berbusana dan hal-hal lainnya yang memiliki nilai sosial. Hal ini yang kemudian mendasari istilah mainstream dan anti-mainstream yang dipahami remaja kekinian di Indonesia. Sehingga persoalan ini menjadi sebuah fenomena sosial yang menarik untuk diulik oleh penulis.
Hipster jadi mainstream
Makna hipster dalam pengartian sebagai kata benda adalah “someone who rejects the established culture; advocates extreme liberalism in politics and lifestyle.” Selain itu ada sumber yang menyebutkan istilah hipster adalah istilah yang muncul pada 1940-an ketika era musik Jazz memasuki budaya manusia. Kaum hipster ini ditujukan bagi anak-anak muda kelas menengah yang selalu ingin tampil beda. Mereka juga digolongkan sebagai budaya yang mendapat pengakuan karena banyak pengikutnya.
Definisi mengenai istilah hipster ini kemudian dapat direfleksikan pada remaja kekinian di Indonesia yang tengah marak menggunakan kosakata yang satu ini tanpa memahami artinya lebih dalam. Penggunaan istilah hipster yang dikonstruksi sedemikian rupa secara sosial untuk mendeskripsikan seseorang yang berbeda, menciptakan sebuah alur komunikasi dalam interaksi sosial yang terjadi pada remaja kekinian. Hal ini kemudian menjadi sesuatu yang “membudaya” bagi remaja kekinian untuk mengekspresikan suatu hal yang berbeda dalam melakukan interaksi dengan orang lain, dan menyebut dirinya sebagai hipster.
Pada kenyataannya, hipster kini seperti sudah “menjamur” di remaja kekinian. Penulis telah melakukan depth interview kepada sejumlah remaja kekinian yang tinggal di Kota Yogyakarta yang beprofesi sebagai pelajar SMA dan mahasiswa S1, hasil yang didapatkan terkait pemahaman mengenai hipster adalah hampir semua mengatakan memaknainya menjadi seseorang yang beda dan berciri khas. Hal ini menjadi semakin terbalik ketika pemaknaan hipster adalah anti-maistream atau berbeda dengan arus utama dalam interaksi antar manusia dari sisi nilai-nilai sosial. Dapat dikatakan ketika remaja kekinian banyak memilih “menjadi’ hipster untuk membedakan diri dari arus utama, yang ada maka hipster saat ini telah menjadi mainstream.
Hipster dalam sosiologi komunikasi
Fenomena hipster diciptakan oleh konstruksi sosial yang dihasilkan dari interaksi antar manusia khususnya remaja kekinian yang kemudian menciptakan makna dari hasil komunikasi dan efek teknologi dan informasi yang merupakan salah satu dari konsep utama sosiologi komunikasi yang dikemukakan oleh Bungin (2006 : 27-31). Konstruksi sosial dalam kajian sosiologi komunikasi mensyaratkan penekunan pada “realitas” dan “pengetahuan”. Dua istilah inilah yang menjadi istilah kunci teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann (1990). “Kenyataan” adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomena yang memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak individu manusia (yang kita tidak dapat meniadakannya dengan angan-angan). “Pengetahuan” adalah kepastian bahwa fenomena itu nyata (real) dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik. Hal ini kemudian dapat menjelaskan fenomena hipster merupakan sebuah konstruksi sosial yang terbentuk, karena berupa hal yang memiliki keberadaan secara sosial dan nyata terjadi dalam interaksi yang ada.
Simpulan
Paparan diatas secara sederhana dapat memberikan prespektif mengenai fenomena hipster yang muncul pada remaja kekinian di Indonesia dalam sosiologi komunikasi. Kemudian setelah mendapatkan setidaknya gambaran bagaiamana fenomena ini dapat diulik menggunakan teori konstruksi sosial, muncul pertanyaan “Apakah konstruksi sosial yang terbentuk akibat interaksi antar manusia dapat membentuk suatu legitimasi secara massal terhadap sesuatu?” Pertanyaan inilah yang dapat kita maknai dari fenomena hipster yang sengaja atau tidak sengaja dikonstruksi dalam masyarakat khususnya remaja kekinian di Indonesia.




0 komentar:
Posting Komentar